Feed Me Kiki on Twitter
April 2nd, 2009

Perempuan dan Takdir Sosial

by Kiki Widyasari
Perempuan dan Takdir Sosial

Perempuan dan Takdir Sosial

AKU lahir dari rahim kultur Jawa, sebuah kultur yang sering dianggap banyak orang “kurang ramah” terhadap eksistensi kaum perempuan; perempuan diposisikan sebagai “kanca wingking” (teman di belakang) yang konotasinya hanya mengurusi peran-peran domestik untuk mengabdi kepada suami (laki-laki). Dalam kultur ini istilah mengabdi bisa diperluas padanannya, misalnya nyuwito, ngabekti dan lainnya yang maknanya ya seputar sub-ordinasi perempuan atas laki-laki. Itu pun masih dengan embel-embel yang bunyinya: perempuan harus nrimo, pasrah sumarah (baca: rela untuk ditindas laki-laki).

Domestifikasi perempuan ini, tentu membatasi ruang gerak atau aktualisasi berbagai peran perempuan secara sosial: seolah-olah perempuan ditakdirkan mengurusi masalah dapur dan kasur. Bahkan ada istilah lain yang kurang sedap: macak (berhias diri agar tetap menarik bagi lelaki) dan manak (melahirkan). Menyakitkan, memang. Saya tidak anti kebudayaan Jawa, namun tidak serta merta menerimanya seluruhnya tanpa reserve. Terhadap kultur apa pun, kritisisme sangat diperlukan. Khususnya terkait dengan peran sosial perempuan.

Bagi saya, domestifikasi peran perempuan sangat tidak manusiawi dan bertentangan dengan hakekat kebudayaan yang meniscayakan manusia, tanpa memandang jenis kelamin, untuk selalu membangun eksistensinya secara kognitif, afektif, psikomotorik guna memperoleh peran sosial yang bermakna bagi kehidupan.

Takdir Sosial

Kaum perempuan harus membangun takdir sosialnya. Karena mereka memiliki hak yang sama dengan kaum laki-laki untuk menjadi sesuatu. Menjadi merupakan terminologi eksistensial manusia yang mengandung proses pencarian dan pengolahan diri untuk menjadi subyek. Dengan menjadi subyek, maka kaum perempuan mampu membangun kemandirian dan kemerdekaanya untuk menentukan dunianya sendiri serta menentukan peran sosial yang dipilihnya. Kaum perempuan tidak bisa berharap kepada pihak lain, kaum laki-laki, untuk soal-soal tersebut. Karena kaum laki-laki cenderung memandang dan menafsirkan realitas dari sudut pandang nilai-nilai yang diyakininya (baca: menguntungkan).

Mengubah Cara Pandang

Takdir sosial bisa diwujudkan melalui berberapa cara. Pertama, mengubah cara pandang peran perempuan dalam kehidupan sosial yang selama ini cenderung ditentukan kaum laki-laki. Cara pandang itu meliputi, minimal, empat hal:

  1. Nilai, misalnya baik-buruk, benar-salah, pantas-dan tidak pantas dst;
  2. Sifat, misalnya sensitif, emosional, boros;
  3. Kuasa, misalnya boleh dan tidak boleh, menentukan dan tidak menentukan, dst;
  4. Hak, misalnya hak berperan sosial, berekspresi dst.

Dalam konteks nilai, kuasa dan hak, perempuan memiliki hak yang sama dalam menentukan baik-buruk, benar-salah, pantas dan tidak pantas baik terkait dengan perilaku individu-sosial, kondisi realitas, perolehan maupun profesi. Dalam konteks sifat, terkait dengan pembatasan peran sosial perempuan, semestinya kaum perempuan menolak berbagai stigma misalnya perempuan selalu emosional, sensitif, cengeng, boros, konsumtif dst. Sifat-sifat itu umum dimiliki semua orang, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan.

Kedua, peningkatan potensi diri perempuan secara intelektual dan teknis (ketrampilan). Dengan kemampuan yang memadai bahkan di atas rata-rata, kaum perempuan mampu bersaing dengan kaum lai-laki dalam merebut peluang dan peran sosial.

Ketiga, tata kuasa yang adil. Kekuasaan harus dipahami sebagai instrumen kehidupan bermasyarakat dan bernegara yang distributif untuk menciptakan kesejahteraan bersama. Maka, tata kuasa harus obyektif (adil) dalam memberikan peran sosial kepada warga negara. Tata kuasa tidak boleh terjebak pada persoalan bias gender. Tata kuasa yang adil ini harus diperjuangan kaum perempuan, sehingga mendapatkan hak yang sama dengan kaum laki-laki.

Era perempuan sebagai kanca wingking, sekadar pendamping atau sekadar pelengkap penyerta dan pelengkap penderita, sudah berakhir. Sudah jadul banget. Sudah out of date. Maka, kini tergantung pada perjuangan kaum perempuan sendiri untuk menentukan kodrat sosialnya.

Ini renungan pribadi saya. Syukur bisa migunani (bermanfaat) bagi temen-temen.

2 Responses to “Perempuan dan Takdir Sosial”

  1. Laurentius says:

    Dear Kiki,
    Pertama tama saya kagum dengan wanita seperti Anda,juga halnya dengan anchor wanita dibeberapa Tv swasata,spt TV One dan Metro TV atas segala usaha dan keinginan untuk menembus batas,so amazing apalagi Kiki background budaya jawa dan saya yakin peribahasa alon alon asal kelakon sudah dimuseumkan oleh anda.
    Kedua kalau melihat dari Picture kamu ,ijinkanlah saya menebak kepribadian kamu: Modist,Berani,Energetic,Ayu,Deep down into ur heart sebenarnya kamu itu sensitive atau agak cengeng,Soal personal life kamu sepertinya agak bimbang dan worry dan sedikit bingung.yang pasti kamu have a good heart terhadap sesama.
    Apa yang kamu alami sepertinya sama dengan saya,hal pertama:kita pernah mengalami kehidupan di budaya yang berbeda dan the way of thinking dari dimana kita lahir Indonesia. ke 2:Kita ingin terus maju dan terus maju itu identik dengan materilistic sebagai hasilnya dalam pencapaian ini maka kita sebagai manusia secara sadar maupun tidak sadar melakukan hal hal yang tidak seimbang ada yang kita sebut waktu tidak bisa menunggu kita bagi saya waktu adalah mahluk yang paling spoiled yang tidak mau mengerti apapun yang kita sedang alami dan waktu tersebut akhirnya akan ngambek atau menuntut dengan segala konsekuenasinya bagi kita.
    contoh: Kalau kita mengejar yang istilahnya karir most of the people yang succeed mengalami ketidak seimbangan,misalnya ada nya masalah di :Health,Love,Family,Caharacters ,Social atau secara makro bisa disebut about Lifenya.
    Hal hal inilah yang membuat kita bertanya what is life for? atau kita merasa emptyness dan merasa kecewa.
    Intinya waktu makan kita harus gunakan untuk makan,waktu tidur untuk tidur dan waktu bercinta gunakan untuk bercinta.
    Kata kunci dalam bercinta dan akhirnya kedepan kita sebut life adalah mendapatkan pasangan yang mempunya the way of thinking yang sama maka saya yakin takdir sosial itu sebenarnya tidak ada.dan jangan pernah mencari yang perfect 10 kali kita mati dan hiduppun gak akan mungkin dapat.karena lawan kita juga akan berpikir yang sama.
    Mulanya persoalannya :seandainya aku bisa memilih,ini yang kadangkala sulit terjadi dalam hidup.kalau bisa kan semua beres.jangan sampai pernah kecewa menjadi seoarang wanita: wanita itu mulia dan strong mulanya kodrtanya melahirkan adanya istilah ibukota ,ibu pertiwi ,kasaih Ibu,surga ditelapak kaki Ibu ,kalau sudah waktunya Cinta yang sesungguhnya itu benar benar indah dan tidak bisa dilihat mana batasannya secara scientific karena sudah blend.

    I wish u all the best in career and life
    Laurentius

  2. sauki says:

    salam……………….

    dari bandara ngurah rai bali

    pak Tris

Leave a Reply